Wong Cilik

Masih lekat di benak kita tentunya kejadian tsunami 4 tahun silam. Banyak saudara saudara kita yang kehilangan harta benda, sanak famili dan yang lebih parah lagi kehilangan masa depan. Hingga sampai sekarang korban selamat dari bencana tsunami tersebut masih berada di pengungsian.

Di kota Banda Aceh sendiri masih terdapat sekitar 500 kepala keluarga atau sekitar 2.000 jiwa masih tinggal di barak-barak pengungsian. Ada sebagian lagi yang menumpang hidup di tempat sanak sodara yang masih ada. Entah sampai kapan penderitaan mereka dapat usai. para korban sangat pasrah kepada donatur yang siap membangun rumah tempat tinggal. Tapi pada kenyataannya para donatur tersebut sangat lambat dalam melakukan proses pembangunan. Sabar sabar dan sabar, hanya itu kalimat yang bisa terucap dari para korban tsunami. Mau dikata apa lagi, mereka tidak bisa melakukan apa-apa hanya bisa menunggu dengan pasrah. Iya kalau proyek tersebut dapat terwujud dan segera terselesaikan. Bagaimana kalau tidak, kepada siapa lagi mereka dapat menggantungkan masa depan?

Tugas kepemimpinan Bapak Presiden memang sangat berat. Tidak hanya mengurusi korban bencana saja. tapi juga harus mengurus politik, ekonomi dan stabilitas negara. Tapi apakah para korban bencana seperti ini mesti terlantarkan? tentunya harus ada badan pengawas khusus untuk mengawasi dan menjalani proses rekonstruksi pembangunan infrastuktur di Aceh.

Yang jadi pertanyaan kenapa pembangunan proyek ini dirasa sangat lama? apakah karena memang proyeknya sangat besar sehingga butuh waktu banyak untuk menyelesaikannya atau karena masalah biaya. Entah apa yang terjadi di Aceh sana. Padahal negara tetangga sudah ikut membantu masalah biaya. Tapi lagi lagi itu hanya pinjaman belaka yang harus dikembalikan beberapa tahun yang akan datang.

Semoga korban tsunami dapat mengakhiri masa-masa pahit ini. semoga wong cilik disana dapat merasakan seperti apa yang kita rasakan saat ini. Tetap tabah dan tetap berihktiar saudaraku.
Label: edit post
0 Responses

Posting Komentar